Awan Kategori
-
Tulisan Terkini
Arsip
Meta
visitors
Mei 2012 S S R K J S M « Des 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Perang Korea di Ujung Tanduk
Akhirnya bibit perang sesama orang Korea sudah tumbuh. Berita mengenai serangan awal dengan arteleri oleh Korea Utara terhadap kepulauan di perbatasan dengan Korea Selatan sudah tersebar. Masyarakat dunia ada yang mendukung, melihat, dan berupaya mendamaikan. Kelanjutan apakah perang ini akan menjadi “Battle” atau “War” bisa kita saksikan mungkin hanya dalam beberapa hari bahkan jam. Tapi hanya satu yang harus digarisbawahi mengenai sisa-sisa sejarah Perang Dunia.
No one will win the war, see families only die
No country wins the war, the grass won’t grow the same
No soldier wins a war, see soldiers only die
sumber liric: Raheem DeVaughn: Nobody Wins A war dengan pengubahan seperlunya
Ditulis pada Berita Umum
2 Komentar
Bahaya LUPA
Tersebutlah 3 sahabat sejati, Joko, Once, dan Sule tinggal satu kamar di apartemen mewah berlantai 75. Apa daya uang pas-pasan, kamar yang disewa pun terletak dilantai paling atas apartemen.
Suatu ketika, 3 sahabat ini baru saja pulang menuju apatermen. Dan ternyata, semua lift yang ada diapartemen tidak bisa dipergunakan karena ada yang rusak, sedang dilakukan pemeliharaan, dan karena dibuat penulis rusak. Oleh karena itu, mau tidak mau mereka harus berjalan ke atas dengan menggunakan tangga darurat.
Untuk mengurangi rasa kebosanan, maka Sule menyampaikan suatu ide brilian. “Gini deh, biar kita gak bosen, gmana kalo dari lantai 1-25 aku ceritakan cerita lucu, secara aku kan pelawak terkenal, habis itu dari lantai 26-50, si Once nyanyi deh, Lalu karena tampang Joko kyk orang susah, dari lantai 51 ampe 75 ceritaiin cerita sedih”, kata Sule. “Seeeep”, kata Joko dan Once. Maka dengan semangat 98, dimulai lha lawakan Sule dari lantai satu.
Singkat cerita akhirnya mereka bertiga sampai di lantai 51, maka sesuai kesepakatan, Joko akan memulai cerita sedihnya. ” Baik lah teman, karena ini cerita sedih pertama yang akan saya sampaikan, maka saya harapkan teman-teman mendengarkan dengan seksama” kata Joko. Sule dan Once pun mulai memasang muka serius untuk mendengar cerita sedih Joko. ” Cerita Sedih pertamanya adalaaaaaaaaah, Kunci Kamar Kita tertinggal didalam mobil”…….?????? OMG……
sumber: soal ujian ELPT dengan perubahan seperlunya
Ditulis pada Lucu-lucuan
5 Komentar
Antara Bung Karno dan Nagabonar

Apa perbedaan Bung Karno dan Nagabonar? Banyak! Salah satunya, Bung Karno adalah Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi Angkatan Perang. Sedangkan Nagabonar adalah panglima perang jadi-jadian dalam cerita fiksi Asrul Sani.
Apa persamaan Bung Karno dan Nagabonar? Keduanya bisa menaikkan pangkat seseorang sekehendak hati. Persamaan yang lain, kisah itu terjadi dalam masa revolusi mempertahankan kemerdekaan.
Benar. Dalam tahun-tahun pertama kemerdekaan kita, banyak sekali kejadian yang serba darurat. Di bidang protokol kenegaraan misalnya, tidak sedikit peristiwa menggelikan yang terjadi di sekitar kehidupan Bung Karno.
Satu waktu, Bung Karno sebagai presiden, harus memiliki seorang ajudan. Maka, diputuskanlah pemberian pangkat militer resmi kepada seorang sipil, warga biasa, yang sudah biasa bertugas melayani Bung Karno. Maka, tanpa upacara kemiliteran, Bung Karno langsung memanggil sang calon ajudan mendekat. “Dengan ini saya mengangkatmu sebagai letnan,” kata Bung Karno.
Yang dilantik girang bukan kepalang. “Terima kasih banyak, Pak!” pekiknya. Ekspresi kegembiraan bercampur syukur jelas tampak di wajahnya yang polos. Entah mimpi apa dia semalam, sehingga hari itu ia sudah berstatus perwira militer.
Kesukaran belum enyah, meski kini Presiden sudah memiliki seorang ajudan berpangkat letnan. Seorang penasihat segera nyeletuk spontan, “Ini tidak mungkin! Ratu Juliana dari Negeri Belanda yang memerintah 10 juta manusia saja mempunyai ajudan seorang kolonel. Bagaimana pandangan orang nanti kalau melihat Sukarno, Presiden Republik Indonesia yang memerintah 70 juta manusia dengan ajudan yang hanya berpangkat letnan?”
Bung Karno termenung sejenak, “Betul juga!” seraya memanggil ajudan yang baru saja dilantik, datang mendekat. “Sudah berapa lama engkau jadi letnan,” tanya Bung Karno kepada sang ajudan.
“Satu setengah jam, Pak” ajudan itu menghormat kaku.
“Nah,” kata Bung Karno, “negara kita ini negara yang baru lahir dan tumbuhnya cepat. Mulai dari sore ini, engkau menjadi mayor….”
sumber:http://rosodaras.wordpress.com/2009/07/18/antara-bung-karno-dan-nagabona…
Ditulis pada Lucu-lucuan
Tinggalkan Komentar
Contoh Soal Tes CPNS Departemen PU 2010
Seperti yang sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya bahwa tes tertulis terbagi atas 2 sesi tes. Tes bagian pertama terdiri atas pengetahuan Pancasila, Undang-undang, Matematika Dasar, dan Tes Kepribadian. Sedangkan tes bagian kedua merupakan tes dibidang keahlian yang diambil, khusus pada tulisan ini akan dibahas dalam bidang sipilnya. Bidang sipil sendiri terbagi atas 3 sub lagi yaitu , konstruksi, transportasi, dan air. Untuk soal tes bidang, ketiga sub tersebut akan dijadikan satu yang berarti untuk masing sub akan mendapat soal tentang konstruksi, transportasi, dan air.
Secara umum, tes pertama akan diuji pengetahuan umum peserta ujian. Hal yang menarik adalah perhatian peserta akan tertuju pada petunjuk jawaban dimana terdapat tiga petunjuk jawaban yang ada. Petujuk tersebut akan mengingatkan kita kepada petunjuk jawaban pada saat UMPTN/SPMB. Soal bagian pertama terdiri atas 100 soal dimana 20 soal dari total tersebut merupakan tes kepribadian. Untuk soal bagian matematika dasar, calon peserta tidak perlu dipusingkan dengan hitungan dan waktu, karena operasi matematika yang diberikan pada soal hanya berupa operasi tambah, kurang, bagi dan pangkat.
Tes kedua merupakan tes bidang keahlian yang diambil peserta. Pada tes kedua ini peserta di bidang sipil akan terkejut karena soal yang diberikan lebih banyak mengenai pengetahuan fisika dasar. Nah lho?, apalagi yang mengambil bidang sipil/transportasi. Hanya ada 2 soal mengenai bidang transportasi. Untuk lebih lanjut langsung aja ke TKP :
Bidang sipil konstruksi
1. Fungsi tulangan sengkang
2. Kuat beton K250 artinya….. berapa MPa atau N/mm2
3. Berapa momen yang ditahan pada perletakan.
4. Berapa momen diujung perletakan
Bidang sipil transportasi
1. Pembagian Jalan berdasarkan fungsi Jalan
2. Jenis Tikungan yang tidak memerlukan lengkung peralihan
Bidang sipil air
1. Penulis sudah tidak ingat lagi, karena hanya anak air yang tau….(-_-)V
Fisika dasar
1. Turunan dari ax , nah lho???
2. Rumus Momen Inersia Bola, apaan ni???
3. Satuan Internasional tegangan, energi
4. Cara menggabung kan titik berat dari beberapa benda
5. Perbandingan Kecepatan linear dan kecepatan sudut ketika benda digerakkan bersama dibawah ini, R2=5R1 dimana R= jari-jari
6. Berapa berat total ketika sebuah lift digerakkan keatas dengan berat orang yang didalam lift sebesat 50 kg, g=10 m/s2
7. Sebuah mobil dalam keadaan diam dipercepat sehingga memiliki kecepata sebesar 108 km/jam selama 8 detik. Berapakah jarak yang telah ditempuh mobil.
8. Yang mempengaruhi besarnya energi potensial
9. Kesetimbangan balok. Berapakah gaya yang membuat tepat balok B akan bergerak apabila balok A mempunyai berat 100 N diikat pada dinding dan diletakkan diatas balok B, dengan koefisien gesekan antara balok A dan B 0,2 sedangkan gesekan balok B dengan lantai dapat diabaikan ?
10. Dan banyak lagi
Kayaknya kalau dipikir-pikir, kalau ada yang tanya , gimana soal tes CPNS nya, dengan gamblang, ANAK SMU aja bisa ngerjain, sumpaaaah!!!! Tapi kitanya yang gak bisa ngerjainnya …hahahahahahah
“God did not create evil. Evil is result of what happens when man does not have God’s love present in his heart” (Albert Einstein)
Ditulis pada Berita Umum
4 Komentar
Tes CPNS Departemen PU 2010
Tes tertulis CPNS Dep. PU untuk jabatan lamaran S1 telah dilaksanakan pada tanggal 7 November 2010 dengan lokasi yang terbagi pada empat kota, yaitu Medan, Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Untuk daerah Jakarta, tempat tes dilaksanakan di Gor Pertamina. Seperti biasa, kota Jakarta menampung peserta ujian yang lebih banyak dari kota lainnya, ini dapat terlihat dari komposisi peserta di Jakarta untuk jurusan sipil, total dari peserta ujian 1500-an dengan 913 dari total tersebut melakukan tesnya di Jakarta.
Tes sendiri dimulai pada jam 9.00 dan berakhir pada jam 14.30. Tes terbagi atas dua sesi. Sesi pertama selama 2 jam dan sesi kedua selama 1,5 jam. Diantar sesi tersebut terdapat jeda untuk ISOMA selama 2 jam. Karena ujian dilaksanakan didalam gor maka peserta tidak perlu takut terhadap kondisi cuaca yang hujan maupun panas langsung dari sinar matahari seperti yang terjadi pada saat tes CPNS Dep. Perhubungan yang di lakukan di gor tebuka. Dari kabar teman yang ikut tes CPNS Dep. Perhubungan, sempat terjadi hujan dan beberapa peserta sempat panik karena cipratan air hujan. Walaupun peserta ditempatkan pada gor tertutup hawa panas tetap terasa ketika pelaksanaan ujian. Untuk mengurangi hawa panas tersebut sebenarnya panitia sudah menyiapkan kipas besar di masing-masing sudut, tetapi sekali lagi hanya mengurangi hawa panas peserta disekitar kipas, sedangkan yang lainnya siap berbasah dengan keringat. Untuk itu disarankan kepada peserta untuk membawa air minum dari rumah dan kalau perlu membawa kipas angin mini yang menggunakan baterai untuk menghindari dehidrasi.
Tes bagian pertama terdiri dari pengetahuan Pancasila, Undang-undang, Bahasa Indonesia, Matematika Dasar, dan Tes Kepribadian. Berbeda dengan soal-soal tahun lalu, untuk soal Pancasila dan Undang-undang tidak seperti tahun lalu yang memaksa kita untuk menghafal segala undang-undang, tap MPR dan amandemen UUD tetapi lebih kepada pengetahuan secara umum. Bagian yang membuat kejutan adalah petunjuk pilihan jawaban. Petunjuk ini akan langsung mengingatkan kita sewaktu kita mengikuti UMPTN atau SPMB. Masih ingatkah pembaca mengenai petunjuk jawaban yang memilih hubungan sebab akibat pada soal UMPTN/SPMB ?? contoh salah satu opsi pilihannya jawaban A adalah ketika 2 pernyataan benar dan saling berhubungan, pilihan Jawaban B adalah ketika 2 pernyataan benar tetapi tidak memiliki hubungan sebab akibat. Yang memudahkan pada tes pertama ini adalah 20 soal dari 100 soal tes pertama adalah tes kepribadian. Sehingga jawaban dari 20 soal terletak pada kepribadian kita sendiri, sehingga peserta tidak terlalu dibuat pusing untuk mengisi jawabannya, kecuali bagi yang mau mengisi jawaban ABS “ Asal Bisa maSuk”.
Tes bagian kedua adalah pengetahuan di bidangnya dan ke-PU-an. Soal standar tetapi bagi yang mengambil bidang sipil khususnya transportasi maka akan dibuat kecewa, karena hanya terdapat 2 soal transportasi yang dikeluarkan saat ujian. Total soal dari tes kedua kalau tidak salah berjumlah 65 soal. Lagi-lagi untuk bidang teknik sipil ujian ini mengingatkan kepada UMPTN/SPMB karena soal Fisika Dasarnya benar-benar memberi kejutan kepada para peserta ujian.
Untuk beberapa contoh soal yang keluar akan diberikan pada tulisan berikutnya.
A person who never made a mistake never tried anything new (Albert Einstein)
Ditulis pada Berita Umum
Tinggalkan Komentar
Menguak Takdir Indonesia
MENGUAK TAKDIR INDONESIA
“…revolusi indonesia adalah revolusi nasonal ditambah dengan revolusi kerakyatan (sosial) karena bertujuan untuk mengubah struktur sosial yang ada secara revolusioner, yakni struktur feodalisme…”
Sjahrir
Indonesia: Bangsa yang Baru Lahir Kembali
Lepas dari penjajahan Jepang, Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka, meski hanya secara fisik, sama seperti bangsa-bangsa dunia ketiga lain yang baru saja memperoleh kemerdekaannya. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pernah berusaha membangun aliansi antar negara-negara dunia ketiga melalui Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Namun peristiwa 30 September 1965, yang hingga sekarang tidak kita ketahui apa dan bagaimana kejadian sebenarnya, oleh pembodohan Orde Baru, telah memaksa Soekarno untuk turun, dan Soeharto menjadi presiden kedua republik ini.
Masa pemerintahan Soekarno dapat dikatakan masa yang penuh kegelapan oleh bayang-bayang kultus individu Presiden Soekarno. Rakyat “diajari” terkesima dengan pidato-pidatonya yang memikat dan sekali lagi, pemerintahan Soeharto dapat menggantikan rezim Orde Lama di tengah kepolosan politik rakyat.
Soeharto tidak menghilangkan budaya feodalistis warisan Orde Lama dan penjajahan, ia malah memanfaatkannya untuk mengukuhkan kekuatan dirinya. Tiga puluh dua tahun ia melakukan pengelabuan rakyat dengan memegang tiga faktor penting kekuasaan, pers, pendidikan, dan militer. Ia menggencarkan ideologi Pancasila disertai berbagai propaganda-propaganda yang malah menggunakan simbol-simbol yang membodohi rakyat, timbullah komunis-fobia, ketakutan yang berlebihan kepada simbol-simbol komunisme, tanpa sedikitpun menyentuh ideologi komunisme.
Rakyat ditipu untuk takut beraspirasi dan beroposisi kepada pemerintahannya. Ia melebur partai-partai menjadi hanya tiga, dengan semangat etatisme ia proklamirkan segala bentuk in-demokrasi ini dengan simbol demokrasi Pancasila. Pancasila dipaksakan menjadi ideologi bangsa dengan mewajibkan penataran P-4 kepada tiap anggota masyarakat yang hendak masuk ke dalam lingkungan akademik (SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi).
Ia tidak mengkultuskan diri, sebagaimana Soekarno, namun ia mengkultuskan Pancasila dan UUD ’45, yang jelas-jelas tidak lengkap, dan cacat sebagai sumber hukum di suatu negara. Mekanisme pemerintahan yang serba tidak jelas inilah yang pada akhirnya mengkultuskan dirinya selama 32 tahun. Dari sanalah ia menguasai segenap pikiran rakyat.
Setiap gelombang protes harus dihentikan dan untuk ini dihalalkanlah militerisme, dengan konsep dwifungsi ABRI, yang jelas-jelas sangat cacat dalam sebuah pemerintahan demokratis, dengan satu jargon: demi terciptaya stabilitas nasional. Memang, demi terciptanya stabilitas nasional, maka semua harus diamankan, dan stabilitas nasional yang dicapai adalah demi langgengnya modal asing masuk ke dalam negeri untuk dikorupsi secara keroyokan oleh konco-konco politiknya.
Ini semua dilakukan demi pembangunan yang dilakukan olehnya. Parameter pembangunan tidak lagi memperhatikan parameter non-fisik yang pada dasarnya sangat penting demi terwujudnya bangsa yang dicita-citakan oleh kemerdekaan. Terjadilah developmentalisme yang disokong oleh modal asing yang masuk melalui hutang luar negeri. Penindasan HAM seperti di Aceh, Timor-timur, Tanjung Priok, dan sebagainya menjadi halal demi stabilitas lancarnya investasi asing.
Hingga Mei 1998, ia akhirnya jatuh oleh drama pengangkatan Wakil Presiden B.J. Habibie. Pemerintahan Habibie tidak mengadili Soeharto sesegera mungkin, ia mengundangkan PEMILU dengan jumlah 48 partai dan mengambil mahasiswa sebagai legitimasi dalam bentuk-bentuk Forum Rektor, UNFREL, KIPP, dan sebagainya, yang bukan mengkritisi dan mempersiapkan rakyat untuk sadar dalam memilih wakil-wakilnya. Pemilu yang aneh, karena partai pemenang Pemilu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) hampir menjadi oposisi, jika ketuanya, Megawati Soekarnoputri, tidak menjadi wakil presiden.
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi presiden RI dan sudah tidak banyak yang bisa dilakukan dengan cepat dan instan, karena bobroknya budaya yang berkembang. Pemerintahan Gus Dur akhirnya dalam politik luar negeri harus sowan ke pemilik modal asing untuk mendapatkan kucuran dana dan melanjutkan pola-pola developmentalisme yang berkembang 32 tahun sebelumnya.
Salah satu bentuk sowan-nya adalah seperti dijabarkan dalam Letter of Intent dengan International Monetery Fund (IMF) untuk mencabut subsidi sektor publik, di antaranya adalah bahan bakar minyak dan pendidikan. Maka BUMN-pun diprivatisasi, bahkan berdasarkan PP No.61/1999, perguruan tinggi dibuat berbadan hukum, agar mencari uang sendiri, karena negara bangkrut. Ini menjadi kesempatan cikal bakal naiknya isu otonomi kampus. Dengan kata lain, otonomi kampus yang ada sekarang bukan berlatarbelakang kepada kebebasan mimbar akademik, namun kondisi yang memaksa privatisasi perguruan tinggi.
Di sisi lain, daerah-daerah yang selama ini bungkam seolah mendapat angin segar untuk menuntut kemerdekaannya sendiri. Gejala disintegrasi bangsa ini menjadi semacam luapan kemarahan rakyat atas ketidakpuasasan selama ini. Bahkan otonomi daerah sendiri, yang oleh UU No.22/1999 menjadi faktor yang bisa jadi di satu sisi menyenangkan rakyat, meski na’if karena berbagai cacat yang dimiliki perundangannya. Daerah otonom menjadi kabupaten, bukannya propinsi. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi Indonesia nantinya di saat AFTA 2003, saat tiap bupati harus berurusan raksasa-raksasa ekonomi internasional sementara infrastruktur otonomi daerah sendiri masih memiliki tingkat absurditas yang tinggi. Entah kepentingan siapa di balik semua ini, namun pengkajian tentang hal ini dirasa sangat kurang, karena semua terbuai dengan kebebasan pers yang selama ini terbendung.
Masih banyak ketidakadilan di sana-sini. Harga BBM naik, uang kuliah naik, dan sebagainya sementara kultur rakyat tidak mendapat sentuhan sama sekali. Secara kenegaraan Indonesia secara struktur telah dijajah kembali oleh kepentingan modal asing yang serta merta masuk dengan dalih pembangunan. Sementara konsentrasi reformasi kabinet Gus Dur adalah perbaikan ekonomi, maka Soeharto diundur-undur pengadilannya dengan mekanisme yang berbelit-belit, pendidikan tak tersentuh, dan semua terseret oleh isu ekonomi yang justru semakin mengecilkan diri kita sebagai entitas bangsa di hadapan pemilik modal asing yang dengan berbagai cara upaya mengeksploitasi republik ini dalam bentuk pengerukan sumber daya alam maupun akar budaya.
Budaya Simbolik Kita
Di samping ancaman disintegrasi bangsa, maka terjadi konflik horizontal lain dalam bentuk perang antara umat beragama dengan dalih agama, sebagaimana kasus Ambon-Halmahera, dan sebagainya. Bangsa yang sangat takut dengan simbol-simbol komunisme yang identik dengan atheisme. Bukannya melawan simbol-simbol atheisme tersebut dengan memperdalam keagamaan malah melakukan cap-cap dan sensor yang justru tidak mendewasakan rakyat dalam berfikir. Kondisi faktual bahwa ada keributan saat diketahui adanya calon legislatif PDI-P yang kebanyakan beragama non-Islam, dan ini menjadi diskursus umum, bukannya kapabilitas si calon legislatif.
Masyarakat kita menjadi buta dengan simbol-simbol yang dipahaminya dengan sederhana karena tidak adanya pendidikan rakyat untuk itu (civic education). Partai-partai sibuk dengan simbol yang ia pakai, bukannya mencerdaskan rakyat tentang bagaimana seharusnya berpolitik dalam koridor demokrasi. Media massa yang ada pun tidak melakukan hal yang signifikan untuk itu.
Ini mempercepat masuknya pola produk budaya asing dari negara maju yang memang sengaja kita impor untuk menyenang-nyenangkan si pemilik modal internasional, karena ia juga masuk dalam bentuk simbol-simbol sebagaimana yang kita kenal sebagai mode, life-style, dan sebagainya. Terciptalah hibrida budaya Hollywood, Dunkin Donuts, McDonald’s, BackStreetBoys, dan sebagainya dengan segala bentuk komodifikasinya yang lambat laun namun pasti mencerabut budaya masyarakat dari akar budayanya.
Ini semua disertai dengan maraknya gejala konsumerisme dan materialisme yang berkembang. Basis ekonomi rakyat tidak diperkuat dengan pembangunan suprastruktur masyarakat melalui pendidikan, malah mencekoki rakyat dengan berbagai pola pembangunan infrastruktur fisik yang ada. Inilah yang diduga menyebabkan tidak timbulnya sense of crisis di kalangan masyarakat umum, termasuk di kalangan pejabat tinggi negara.
Hal ini juga merambah ke berbagai sektor riil masyarakat termasuk pendidikan. Pendidikan ikut-ikutan terkomodifikasi. Jenjang pendidikan SD hingga SMU tidak menjanjikan apa-apa, sebab untuk masuk ke dalam perguruan tinggi negeri, ia harus seorang lulusan SMU harus ikut ke dalam berbagai pola bimbingan belajar. “…education is the only way for social reconstruction…“, tutur filsuf pendidikan, John Dewey, dan kebobrokan sistem pendidikan nasional merupakan rusaknya proses rekonstruksi sosial kita.
Bangsa yang Tak Pernah Merdeka
Pola-pola penjajahan yang mungkin terjadi pada realitas kita saat ini antara lain :
- Penyerapan Sumber daya alam
Kondisi bahwa kita sebagai negara berkembang telah memaksa kita untuk membiarkan masuknya berbagai instansi asing masuk ke negara kita untuk melakukan eksploitasi susmber kekayaan alam baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak. Keberadaan PT. Caltex Pacific, PT ARCO, PT Freeport, dan sebagainya menjadi hal yang lumrah, meski tanpa kita sadari beberapa kecurangan seringkali terjadi dalam hitung-hitungan pencerapan kekayaan alam tersebut. Ketiadaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi untuk melakukan proses tersebut merupakan aspek utama yang mengalahkan kita dalam rangka penggalian sumber daya alam tersebut.
- Penjajahan Struktur Ekonomi
Kondisi hutang luar negeri Indonesia yang hingga 31 Maret 2000 berjumlah sekitar 144,23 milliar Rupiah telah menyebabkan kita tidak mampu banyak bicara dan melakukan aksi yang nyata dalam rangka identifikasi diri. Sebagai contoh yang konkrit adalah tuntutan untuk privatisasi sektor publik yang diharuskan oleh IMF dalam Letter of Intent kepada Indonesia, padahal hal tersebut sangat mengancam keberadaan dan keutuhan bangsa, di mana privatisasi sektor publik akan menyebabkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM), dan berbegai efek moneter lain yang mengganggu kesetimbangan kehidupan ekonomi negara. Contoh lain lagi adalah pola likuidasi bank-bank yang bangkrut dalam bentuk MSAA (Master of Settlement Acquisition Agreement) yang jelas-jelas lebih berpihak kepada investor asing dan konglomerasi lokal daripada kepada rakyat tertindas. Negara pontang-panting mencari dana sebesar 144,5 triliun rupiah sebagai dana likuidasi bank untuk membayar hutang-hutang para konglomerat sementara subsidi pendidikan, BBM, dikurangi. Kebijakan ini tentunya sangat dipengaruhi oleh poltiik internasional yang dimainkan pemerintahan negara ini.
- Penjajahan Budaya
Kondisi bahwa negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, sebagai pasar hasil produksi industri dari negara industri maju merupakan hal yang lambat laun mengakibatkan ketergantungan terhadap keberadaan negara industri maju tersebut. Pembangunan kita yang developmentalistik telah mengarahkan orientasi pembangunan ke arah pembangunan fisik saja dan ini lama kelamaan akan menjajah secara kultur. Demikian pula halnya dengan rendahnya kecintaan akan produksi dalam negeri (rendahnya rasa nasionalisme) merupakan promosi tersendiri bagi produksi asing untuk menguasai pasar dalam negeri.
Sebagaimana diuraikan pada artikel terdahulu, pola produksi di negara industri maju telah mengalami revolusi manajemen yang mengakibatkan terjadinya pola produksi budaya, dalam bentuk mode, gaya hidup, dan sebagainya. Maraknya berbagai kesenian asing dalam bentuk film, musik, tarian, mode pakaian, dan sebagainya telah merambah pasar putra-putri bangsa yang terdisiplinkan dengan berbagai kenikmatan (fun, ecstasy) yang ditawarkannya. Dan aspek-aspek ini tentunya membawa pikir budaya tertentu yang jelas berpengaruh besar atau kecil terhadap kondisi anak-anak negeri. Bukan tidak mungkin kondisi ini akan mematikan sumber budaya tradisional yang memperkaya khasanah budaya bangsa karena generasi mudanya disibukkan dengan berbagai efek budaya asing ini. Ini jelas akan mempermiskin budaya lokal, dan kesadaran lokal pun akan hilang, padahal hanya masyarakat yang memiliki kesadaran lokal-lah yang mampu memberikan sumbangsih pada perkembangan budaya global.
Demikian pula halnya dengan pendidikan tinggi yang diarahkan ke sana, akan semakin mengasingkan intelektual bangsa dengan kondisi lokal. Paradigma baru yang ditawarkan seringkali ber-perspektif global tanpa disertai suatu kesadaran lokal yang proporsional. Sebagai contoh adalah pola pendidikan yang ada di Institut Teknologi Bandung, yang cenderung diarahkan (tanpa tedeng aling-aling) dengan perspektif global, dengan segala kemajuan teknologi yang ada di negeri industri maju, yang tidak membumi terhadap kebutuhan masyarakat lokal yang masih membutuhkan kecerdasan dan intelektualitas generasi muda Indonesia. Sebagaimana diutarakan W.S. Rendra dalam puisinya berjudul “Seonggok Jagung” :
Seonggok jagung di kamar,
takkan menolong seorang pemuda,
yang pandangan hidupnya hanya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan…
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya,
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupannya !
Kesimpulan
Ketidakmandirian kita dan kebobrokan mentalitas dan mekanisme hukum serta proses demokratisasi para pendiri negara dan para pemimpin bangsa selama lima dekade belakangan, ternyata telah menyebabkan bangsa kita terdampar pada krisis identitas kebangsaan yang kronis yang menghancurkan eksistensi Indonesia sebagai bangsa di tengah badai ekonomi globalisasi. Kebobrokan sistem perundangan, kebutaan politik rakyat yang dipenuhi oleh mitos-mitos ratu adil dan berbagai simbol yang menyebabkan menghanyutkan rakyat terhadap kesadaran politik, ditambah kebobrokan mental, telah menciutkan nyali untuk melawan pola neo-kolonialisme yang saat ini berkembang.
Sistem yang serba rapuh tadi pun akhirnya menyambut penghisapan sumber kekayaan alam, mematikan budaya nasional yang diperkaya oleh budaya tradisional, serta ketergantungan ekonomi merupakan potret bangsa kita saat ini, dan kita tak bisa menutup mata terhadap kondisi ini. Masalah kita telah sedemikian terakumulasi tidak hanya di struktur masyarakat, sebagaimana diungkapkan Sjahrir di awal tulisan ini, melainkan telah merambah juga ke kultur sosial. Kita membutuhkan revolusi budaya…..
Ditulis pada Kemahasiswaan
Tinggalkan Komentar





